Indogamers.com - Analis dari Bank of America, Omar Dessouky, menyarankan agar Rockstar Games menaikkan harga jual Grand Theft Auto 6 (GTA 6) menjadi 80 dolar AS (sekitar Rp1,2 juta). Langkah ini dinilai perlu dilakukan untuk membantu menjaga keberlanjutan industri game secara keseluruhan di tengah membengkaknya biaya pengembangan gim blockbuster. Dessouky berpendapat bahwa jika sekuel yang sangat dinanti ini tetap dijual dengan harga standar 70 dolar AS, hal tersebut dapat berdampak negatif bagi gim lain yang berencana menaikkan harga demi menutupi biaya produksi.
Pernyataan tersebut muncul dalam catatan yang diterbitkan oleh Bank of America menyusul acara Iicon di Las Vegas baru-baru ini. Meskipun eksekutif Take-Two selaku induk perusahaan Rockstar belum memberikan konfirmasi resmi mengenai angka 80 dolar AS, mereka mencatat bahwa jika mempertimbangkan faktor inflasi, harga video gim sebenarnya mengalami penurunan dari waktu ke waktu.
Prediksi mengenai lonjakan harga GTA 6 ini bukanlah hal baru di kalangan pengamat ekonomi. Tahun lalu, Matthew Ball dari Epyllion menyebut adanya harapan di kalangan pelaku industri agar gim ini dibanderol mencapai 100 dolar AS. Senada dengan hal tersebut, Michael Pachter dari Wedbush Securities menduga perusahaan memiliki strategi khusus untuk memasarkan gim ini pada harga yang belum pernah ada sebelumnya.
Sebagai catatan sejarah, Take-Two merupakan penerbit besar pertama yang memelopori kenaikan harga gim menjadi 70 dolar AS pada awal generasi konsol PS5 dan Xbox Series X|S, sebuah langkah yang kemudian diikuti oleh hampir semua penerbit besar lainnya.
Menanggapi perdebatan mengenai harga tersebut saat berbicara di Iicon, CEO Take-Two, Strauss Zelnick, memberikan pandangannya mengenai nilai sebuah produk di mata konsumen.
Zelnick juga menambahkan bahwa kepuasan pembeli sangat bergantung pada keseimbangan antara kualitas produk dan harga yang dibayarkan.