Indogamers.com - Memasuki tahun 2026, Komunitas Free Fire Indonesia (KFFI) resmi memulai babak baru di bawah kepemimpinan ketua terpilih, Yaya. Memegang mandat sebagai pemimpin para Survivors se-Indonesia, Yaya membawa visi besar yang tidak hanya fokus pada kompetisi, tetapi juga penguatan akar rumput dan dampak ekonomi nyata.
Seminggu pertama menjabat, wanita dengan nama lengkap Novella Alpya mengaku dinamika organisasi langsung melesat cepat. "Jujur, seru banget tapi lumayan bikin kaget! Grup WhatsApp sudah nggak pernah sepi, notifikasi jalan terus. Tidur masih bisa lah ya, tapi mimpinya sekarang isinya agenda kegiatan semua," ujarnya saat diwawancarai oleh tim Indogamers.
Visi Gas Ajalah dan Budaya Inklusif
Terpilihnya Yaya menjadi angin segar bagi keterwakilan perempuan di pucuk pimpinan komunitas esports. Dengan jargon Gas ajalah!, ia menegaskan tidak ingin ada keraguan dalam mengeksekusi program kerja. Salah satu prioritas utamanya adalah merombak budaya internal komunitas menjadi lebih suportif.
"Saya ingin kita lebih terbuka dan suportif. Nggak ada istilah senior-junior yang kaku. Siapa punya ide keren, ayo kita obrolin dan wujudkan bareng-bareng," tegas Yaya. Bagi Yaya, loyalitas komunitas di tengah gempuran game-game baru hanya bisa dijaga dengan ikatan emosional (sense of belonging).
Mendorong Ekonomi Lokal Lewat Esports
Salah satu poin revolusioner yang dibawa Yaya adalah mengaitkan kegiatan komunitas dengan pemberdayaan UMKM dan industri kreatif di daerah. Ia ingin KFFI menjadi motor penggerak ekonomi, bukan sekadar penonton.
"Di periode saya, saya pengen tiap acara regional punya mitra UMKM tetap. Jadi kita nggak cuma numpang lewat bikin acara, tapi juga bantu promosiin produk lokal," jelasnya. Selain itu, Yaya berencana mengadakan sesi berbagi skill untuk profesi di balik layar seperti Tournament Organizer, Admin Media Sosial, hingga Shoutcaster.
Menuju Grand Final FFNS Spring Palembang
Ujian besar pertama kepengurusan Yaya akan tersaji pada 5 April 2026 mendatang dalam gelaran Grand Final FFNS Spring di Palembang, Sumatera Selatan. Ia berharap ajang ini bisa menjadi magnet pariwisata yang membangkitkan ekonomi lokal.
"Saya pengen hotel-hotel penuh, pempek laku keras, dan destinasi kayak Jembatan Ampera atau Jakabaring makin ramai dikunjungi. Saya pengen tunjukin ke pemerintah daerah kalau acara komunitas kita bisa jadi magnet pariwisata yang efektif buat anak muda," kata Yaya optimistis.
Menutup perbincangan, Yaya memberikan pesan khusus bagi tim-tim komunitas grassroots yang akan bertanding di Palembang nanti agar tetap percaya diri. "Mental itu lebih dari segalanya. Di arena, semua punya peluang yang sama. Jangan silau sama nama besar lawan, main lepas saja dan kasih kejutan!" pungkasnya.***






















