Indogamers.com - Di tengah riuhnya dentuman musik modern dan gemerlap lampu panggung opening Grand Final Free Fire Nusantara Series (FFNS) 2026 Spring pada 5 April 2026 kemarin di PSCC, terselip sebuah pemandangan yang tak biasa: derap langkah mantap para pendekar dengan balutan kain songket dan tanjak khas Palembang. Ini bukan sekadar pertunjukan pembuka, melainkan sebuah jembatan waktu yang menghubungkan tradisi abad ke-18 dengan industri gim masa kini.
Warisan dari Tepian Sungai Musi
Adalah Mirza Indah Dewi, atau yang akrab disapa Indah Kumari, sosok di balik layar yang membawa napas tradisi tersebut. Sebagai generasi penerus Sanggar Tari Anna Kumari, Indah memikul beban sejarah yang besar. Sanggar yang berdiri sejak tahun 1963 ini merupakan salah satu yang tertua di Kota Palembang.
Indah menceritakan bahwa sanggar mereka adalah Penjaga Tradisi Pencak Silat Palembang Darussalam.
"Ibu saya (mendiang Anna Kumari) merupakan pesilat dari Perguruan Pencak Silat Keraton Asli. Beliau mempelajari ilmu silat Keraton, jadi selain penari, beliau adalah seorang pesilat. Itulah alasan kami diajak bekerja sama untuk acara Free Fire ini," ungkap Indah.
Persiapan intensif dilakukan selama dua minggu di padepokan. Untuk acara ini, Sanggar Anna Kumari berkolaborasi dengan Perguruan Popsri pimpinan H Ali Zubair. Sebanyak 15 pesilat dikerahkan untuk menyusun koreografi pertarungan Atraksi Pencak Silat Palembang Darussalam. Tantangannya adalah memadatkan gerakan silat yang kompleks ke dalam durasi pertunjukan yang hanya sekitar satu menit.
"Konsepnya adalah memadukan kolaborasi seni tradisi silat dengan permainan game zaman sekarang. Kami memberikan masukan agar unsur tradisi tetap kuat, seperti penggunaan Rumpak dan Tanjak dalam busana," jelas Indah.
Simbolisme dalam Kostum
Meski panitia menyediakan kostum dasar berwarna hitam yang melambangkan ketangguhan pendekar, Indah bersikeras menyematkan identitas lokal. Penggunaan kain songket serta warna merah, emas, dan hijau menjadi wajib karena merupakan simbol kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam.
Bagi Indah, detail ini penting agar penonton, terutama dari Palembang, yang mayoritas anak muda, tahu bahwa mereka memiliki akar budaya yang gagah.
"Misi kami adalah mensosialisasikan pencak silat Palembang kepada generasi muda. Semodern apa pun kalian, boleh belajar karate atau taekwondo, tapi jangan lupakan akar kita sendiri," tegasnya.
Perubahan Mindset mengenai Game
Keterlibatan sanggar legendaris ini dalam ekosistem e-sports sempat mengejutkan Indah. Sebagai seorang ibu, ia jujur mengakui adanya stigma negatif terhadap dunia gim di matanya selama ini.
"Jujur, awalnya saya kaget. Namanya anak muda, Free Fire itu kan identik dengan game. Saya sebagai ibu sering mengomel kalau anak saya main game terus. Ternyata saya malah terlibat di sini!"
Namun, setelah melihat langsung bagaimana ekosistem ini bekerja, pandangannya berubah. Ia menyadari bahwa bermain gim di level profesional membutuhkan disiplin dan kecerdasan.
"Setelah saya ikuti, ternyata ini keren untuk generasi muda. Mereka bahkan disebut atlet, ternyata atlet tidak hanya fisik, tapi juga pemikiran dan ide," jelas Indah.
Perubahan mindset ini semakin diperkuat ketika mengetahui ada salah satu kompetisi yang diselenggarakan Garena, yaitu Garena Youth Competition (GYC), mensyaratkan nilai akademik untuk bisa ikut sebagai peserta.
"Anak-anak ini kalau mau ikut kompetisi harus ada nilai bagus di sekolah. Ini mematahkan kekhawatiran orang tua bahwa game hanya membuang waktu," tambahnya.
Terpukau di Panggung Jembatan Ampera
Rasa skeptis Indah benar-benar luruh saat ia melihat bagaimana budaya lokal dihargai secara visual di lokasi acara, terutama pada dekorasi panggung Grand Final FFNS 2026 Spring yang sangat ikonik.
"Saya sangat terharu dan bangga melihat dekorasi di panggung ini. Pihak panitia sangat luar biasa karena menonjolkan ikon Jembatan Ampera di sana. Itu benar-benar menunjukkan identitas kita sebagai orang Palembang," ujarnya penuh syukur.
Indah menitipkan harapan agar ke depan, identitas lokal seperti Tanjak dan Gandik bisa menjadi atribut wajib bagi pengunjung dan panitia di setiap acara besar di Palembang. Dengan begitu, modernitas tidak akan pernah menenggelamkan marwah tradisi Wong Kito Galo.
Melestarikan Tradisi di Hari Tari Dunia
Meski telah sukses memukau penonton di ajang Grand Final FFNS 2026 Spring, perjalanan Sanggar Tari Anna Kumari dalam menjaga budaya Palembang tidak berhenti di situ. Saat ini Indah Kumari sedang mempersiapkan event besar Hari Tari Sedunia 2026, 10 jam Nonstop Menari dan Tari Massal Dana Belincak 700 Penari dari segala kalangan dari tk anak -anak, remaja, dewasa sampai manula, pria dan wanita.
Acara ini Diselenggarakan oleh Komunitas SATAPA ( Sanggar Kota Palembang ) yang mana Indah adalah satu pembina nya, pada 29 April mendatang di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.
Melalui rangkaian kegiatan dari panggung e-sports hingga pelataran museum, Indah ingin memastikan bahwa marwah tradisi Wong Kito Galo tetap hidup dan relevan di hati generasi masa depan.***