Indogamers.com - Wih, gaes, ada berita spicy nih dari dapur rahasia Ubisoft!Kalian tahu kan kalau seri Assassin's Creed itu selalu berani ambil latar sejarah yang seru dan penuh konflik? Tapi, ternyata keberanian itu ada batasnya, bro. Sebuah laporan eksklusif dari Game File membocorkan bahwa Ubisoft diam-diam membatalkan proyek Assassin's Creed yang ambisius pada tahun 2024, sebagaimana yang dilansir dari VGC, Rabu (8/10).
Kenapa dibatalin? Alasannya bukan karena bug atau gameplay jelek, tapi gara-gara "terlalu politis" dan takut kena backlash di Amerika Serikat!
Misi Samurai Hitam vs. Klan Rasis di Era Perang Saudara

Proyek game yang dibatalkan ini punya latar waktu di era Perang Saudara Amerika (Civil War) dan masa Reconstruction (sekitar tahun 1860-an hingga 1870-an). Ini adalah periode yang sangat sensitif dalam sejarah AS.
Yang paling keren (dan kontroversial) adalah plot utamanya: Kalian bakal mainin karakter pria kulit hitam yang dulunya adalah budak. Setelah bebas, dia pindah ke Barat, direkrut oleh Brotherhood Assassins, dan kemudian kembali ke Selatan untuk menegakkan keadilan.
Misi utamanya? Melawan kelompok supremasi kulit putih yang terkenal kejam, yaitu Ku Klux Klan (KKK). Bayangin aja, gameplay Assassin's Creed di mana kamu diam-diam menghabisi anggota KKK! Kedengarannya epik banget, kan?
Ketakutan Backlash dan Efek Domino Yasuke

Menurut sumber anonim (mantan dan current employee Ubisoft) yang diwawancarai Game File, keputusan buat cancel datang dari manajemen tinggi di Paris pada pertengahan 2024. Ada dua alasan utama:
Backlash Yasuke: Mereka melihat hype negatif dan reaksi rasis online yang muncul setelah pengumuman Yasuke (samurai Black) sebagai salah satu protagonis di Assassin's Creed Shadows. Manajemen khawatir, kalau game tentang KKK ini dirilis, backlash-nya bakal jauh lebih parah.
Kondisi Politik AS yang Panas: Situasi politik di AS saat itu dianggap "terlalu tidak stabil" untuk merilis game yang mengangkat isu rasial dan sejarah yang begitu sensitif. Mereka takut game ini malah jadi bahan bakar perdebatan yang nantinya bakal merugikan perusahaan.
Keputusan ini jelas bikin tim developer yang sudah semangat jadi kecewa berat. Salah satu developer yang dikutip oleh Game File menyampaikan rasa frustrasi mereka:
"Saya benar-benar kecewa berat tapi tidak kaget dengan keputusan manajemen [Ubisoft]," ujar salah satu sumber. "Mereka membuat lebih banyak keputusan untuk mempertahankan 'status quo' politik dan enggak ambil sikap, enggak ambil risiko, bahkan risiko kreatif."
Developer lain juga bilang, keputusan pimpinan itu sangat memengaruhi ambisi kreatif dan motivasi tim.
Penutup

Sayang banget ya, cuy, kita kehilangan potensi game Assassin's Creed yang seharusnya bisa jadi sangat berani dan relevan. Misi melawan KKK sebagai Assassin Black di era Reconstruction pasti bakal jadi pengalaman yang unik banget.
Gimana menurut kalian, gaes? Apakah keputusan Ubisoft ini tepat karena menghindari drama politik, atau malah jadi blunder karena menghilangkan game yang punya potensi besar?






















