Viral Siswi SD di Bali Lompat dari Lantai 3, Benarkah Terkait Game Omori?

Omori. (Sumber: Twitter.com/@MeridiemGames)

Indogamers.com - Peristiwa yang melibatkan seorang siswi sekolah dasar di Denpasar, Bali, yang jatuh dari lantai tiga Pasar Desa Adat Serangan memicu perhatian luas publik. Insiden ini dengan cepat menjadi perbincangan di media sosial, terutama setelah muncul spekulasi yang mengaitkannya dengan game horor-psikologis Omori.

Narasi tersebut muncul setelah beredarnya sebuah video yang memperdengarkan lagu latar yang diklaim berasal dari game tersebut. Warganet kemudian berspekulasi dan mencoba menghubungkan kejadian ini dengan salah satu adegan dalam permainan.

Polisi Lakukan Pendalaman

Aparat kepolisian masih menyelidiki penyebab pasti dari kejadian tersebut. Hingga kini, korban belum dapat dimintai keterangan karena masih dalam proses pemulihan dan mengalami trauma.

Hasil sementara dari penelusuran digital mengungkap bahwa lagu yang terdengar dalam video adalah “My Time” yang dibawakan oleh Bo En, bukan sekadar potongan audio tanpa konteks.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan belum ada kesimpulan yang bisa ditarik terkait motif atau latar belakang tindakan tersebut.

Ahli: Jangan Tarik Kesimpulan Sederhana

Di tengah ramainya spekulasi, kalangan psikolog mengingatkan agar publik tidak tergesa-gesa menyimpulkan penyebab kejadian hanya dari satu faktor, termasuk game.

Psikolog Wangsa Ayu Vidya Loka menjelaskan bahwa anak-anak masih berada dalam fase perkembangan, khususnya dalam aspek kontrol emosi dan pengambilan keputusan.

Dalam kondisi tertentu, tindakan ekstrem pada anak bisa terjadi bukan karena dorongan untuk mengakhiri hidup, melainkan impuls sesaat—seperti rasa penasaran, keinginan mencoba, mencari perhatian, atau meniru sesuatu yang dilihat tanpa memahami konsekuensinya secara utuh.

Ia juga menekankan bahwa konten digital, termasuk game, sebaiknya dilihat sebagai bagian dari faktor yang lebih luas, bukan sebagai penyebab tunggal.

Mengenal Omori dan Narasi Psikologisnya

Omori merupakan game RPG yang dikenal dengan pendekatan cerita psikologis yang kompleks. Alurnya terbagi dalam dua dunia: Headspace dan Faraway Town.

Headspace digambarkan sebagai dunia imajinasi yang diciptakan karakter utama, Sunny, sebagai bentuk pelarian dari trauma masa lalu. Di sana, ia hadir sebagai Omori—versi dirinya yang dingin dan tanpa emosi—bersama teman-temannya dalam versi masa kecil yang tampak ideal.

Sebaliknya, Faraway Town merepresentasikan realitas yang harus dihadapi Sunny setelah bertahun-tahun mengisolasi diri. Dunia ini memperlihatkan dampak tragedi terhadap hubungan sosial dan kondisi mental para karakter.

Cerita berpusat pada kematian Mari, kakak Sunny, yang awalnya dianggap bunuh diri. Namun, seiring perkembangan cerita, terungkap bahwa insiden tersebut adalah kecelakaan tragis yang melibatkan Sunny dan sahabatnya, Basil. Rasa bersalah yang muncul menjadi konflik utama sepanjang permainan.

Game ini memiliki beberapa kemungkinan akhir. Dalam skenario “good ending”, Sunny mampu menghadapi traumanya dan memilih jujur kepada teman-temannya, menandai proses penerimaan diri. Sementara itu, “bad ending” memperlihatkan kondisi sebaliknya—ketika ia gagal keluar dari tekanan psikologis dan menyerah pada rasa bersalah.

Jangan Abaikan Faktor Lingkungan

Kasus ini kembali menegaskan pentingnya pendampingan dalam konsumsi konten digital, khususnya bagi anak-anak. Namun, para ahli menilai bahwa faktor psikologis, lingkungan sosial, serta kondisi individu tetap menjadi aspek utama yang harus diperhatikan dalam memahami peristiwa seperti ini.

Menarik garis lurus antara satu konten dengan tindakan nyata tanpa bukti yang kuat justru berpotensi menyesatkan dan mengaburkan persoalan yang lebih mendasar.

Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI