Indogamers.com - Gila ya, kadang ada game yang benar-benar bagus—grafisnya gorgeous, gameplay-nya asyik, dan kritikus memujinya habis-habisan—tapi anehnya nggak laku di pasaran. Hari ini, kita akan membongkar 10 masterpiece di konsol PS5 yang harusnya jadi hit besar, tapi justru gagal total! Alasannya beragam dan kadang bikin geleng-geleng kepala. Semua ulasan ini kita rangkum dari video best of yang diunggah di kanal YouTube. Yuk, kita selami kenapa game-game keren ini bernasib tragis!
1. Prince of Persia: The Lost Crown – Korban Salah Harga dan Salah Genre
Game yang rilis Januari 2024 ini sejujurnya adalah Metroidvania terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Art style-nya menawan, combat-nya mulus, dan platforming-nya menantang. Tapi, penjualan Ubisoft sendiri mengakui penjualannya mengecewakan. Kenapa? Pertama, game ini diluncurkan dengan harga relatif rendah ($40) yang malah membuat orang berpikir, "Ah, ini pasti game kecil yang kurang penting." Kedua, franchise Prince of Persia terkenal dengan petualangan 3D epik, sementara ini malah 2D sidescroller, bikin penggemar bingung. Ditambah lagi, marketing Ubisoft yang lemah membuat game ini tenggelam begitu saja. Kasihan, padahal kualitasnya top!
2. Ratchet & Clank: Rift Apart – Korban Timing yang Kacau
Ini adalah salah satu game yang paling sempurna untuk memamerkan kecanggihan PS5, terutama fitur instant loading saat berpindah dimensi. Game ini lucu, menawan, dan cantik luar biasa. Jadi kenapa gagal? Masalahnya cuma satu: waktu rilis yang salah. Game ini rilis pada Juni 2021, saat PS5 masih sangat langka dan susah dicari. Install base PS5 masih kecil, padahal ini exclusive premium. Jadi, saat konsol sudah banyak di tahun 2023, hype-nya sudah keburu mati dan semua orang sudah pindah ke game lain. Game ini adalah bukti bahwa timing bisa merusak segalanya.
3. Returnal – Terlalu Sulit dan Terlalu Mahal
Returnal sebenarnya game yang brilian dengan desain yang keren, tapi juga mungkin game yang paling kejam yang pernah dirilis Sony. Ini adalah game roguelike di mana kamu mati, kehilangan semua kemajuan, dan harus mengulang dari awal, bahkan setelah lari 2–3 jam. Bagi hardcore gamer, ini surga. Bagi pemain biasa, ini mimpi buruk! Reputasi "terlalu sulit" sudah terlanjur melekat, meskipun Sony akhirnya menambahkan fitur save. Selain itu, harga awalnya yang mahal ($80) dan rilis saat PS5 langka membuat game ini terlalu niche dan tidak ramah dompet.
4. Marvel’s Midnight Suns – Ketika Fans Action Dikasih "PR" Taktik
Ide menggabungkan karakter superhero Marvel dengan gameplay taktik ala XCOM sebenarnya menarik. Sayangnya, game ini langsung gagal di pasaran. Alasannya jelas: salah target pasar. Penggemar Marvel ingin aksi cepat, bukan game taktik berbasis kartu yang terasa seperti "PR" atau tugas sekolah. Marketing-nya pun buruk, membuat game ini terlihat murahan. Puncaknya, game ini rilis pada Desember 2022, bulan yang sama dengan God of War Ragnarok dan menjelang Natal. Siapa yang mau main game strategi saat ada God of War?
5. Kena: Bridge of Spirits – Korban Hype Grafis Pixar
Game debut dari studio kecil Ember Lab ini sukses mencuri perhatian karena visualnya yang persis film Pixar. Hype-nya luar biasa! Tapi saat rilis, game ini ternyata hanya "cukup bagus" (sekitar 7/10), bukan masterpiece seperti yang diharapkan banyak orang. Dengan harga $40, ekspektasi orang sangat tinggi. Kena menawarkan action-adventure yang lumayan generik, boss fight yang kadang bikin frustrasi, dan tamat dalam waktu singkat (sekitar 10 jam). Kesimpulannya: tampilan luar biasa saja tidak cukup, isinya juga harus revolusioner.
6. Guardians of the Galaxy – Dihukum Atas Dosa Game Lain
Ini adalah kasus yang menyedihkan. Guardians of the Galaxy dianggap sebagai salah satu game superhero terbaik yang pernah dibuat, dengan cerita yang emosional dan dialog yang sangat lucu. Namun, hampir tidak ada yang memainkannya saat rilis. Penyebab utamanya adalah: Avengers. Game Marvel's Avengers yang rilis setahun sebelumnya gagal total dan merusak reputasi semua game Marvel setelahnya. Orang-orang langsung berasumsi ini juga game live service yang penuh microtransaction, padahal ini 100% game single player. Marketing yang buruk dan desain karakter yang aneh (tidak mirip aktor film) hanya memperburuk keadaan.
7. The Callisto Protocol – Gagal Penuhi Janji Horor
Digarap oleh kreator Dead Space, Glen Schofield, game ini menjanjikan horor survival paling menakutkan. Hype-nya gila-gilaan, apalagi dengan budget $50 juta! Sayangnya, saat rilis, game ini dianggap biasa saja. Combat-nya terasa canggung karena fokus ke pertarungan jarak dekat, musuhnya repetitif, dan yang paling fatal, tidak menakutkan! Di hari pertama, performanya di PC sangat buruk (stuttering, crash), dan di konsol frame rate-nya dibatasi 30 FPS. Dengan harga $70, orang ingin inovasi, bukan tiruan cerita penjara luar angkasa yang sudah sering kita lihat.
8. Ghostwire Tokyo – Artistry Cantik Tanpa Fun Gameplay
Game ini benar-benar unik. Setting-nya Tokyo yang kosong dan indah, dipenuhi hantu yang kamu lawan dengan gerakan tangan ajaib (karate magic). Atmosfer dan grafisnya luar biasa, didukung ray tracing yang membuat PS5 bersinar. Lalu, kenapa gagal? Karena setelah 3 jam, kamu akan merasa melakukan hal yang sama berulang-ulang: kumpulkan roh, lawan musuh yang mirip, bersihkan gerbang kuil. Gameplay loop-nya cepat membosankan, ceritanya lama panas, dan tokoh utamanya kurang berkarisma. Akhirnya, game ini terlupakan dalam sebulan karena keindahan tanpa tantangan dan variasi yang kurang.
9. Immortals of Aveum – Budget Ratusan Juta untuk Game yang Rata-rata
Bayangkan: game first-person shooter berbasis sihir dari developer baru, dengan biaya produksi mencapai $125 juta! Ini ambisi yang gila, dan hasilnya bencana. Immortals of Aveum gagal total dan membuat studionya harus memecat hampir separuh staf. Penyebabnya? Pertama, butuh PC spek dewa untuk berjalan mulus. Kedua, rilis di bulan yang sangat padat (Agustus 2023) bersamaan dengan Baldur's Gate 3 dan Armored Core 6. Ketiga, game-nya sendiri terasa derivative, humornya dipaksakan, dan sistem sihirnya hanya terasa seperti menembakkan peluru berwarna. $70 untuk campaign 7 jam yang langsung terlupakan? Tentu saja gagal.
10. Forspoken – Bencana Terbesar dan Korban Meme Internet
Forspoken mungkin adalah kegagalan terbesar dalam daftar ini. Square Enix menghabiskan bertahun-tahun dan lebih dari $100 juta. Sayangnya, game ini sudah jadi meme bahkan sebelum rilis karena dialog karakternya yang sangat cringey. Saat rilis Januari 2023, game ini penuh masalah: cerita chosen one yang generik, dunia terbuka yang besar tapi kosong dan membosankan, dan performa yang sangat buruk di PC maupun PS5. Karakter utamanya, Frey, terasa menjengkelkan, dan gelang sihirnya tidak bisa diam. Kegagalan ini membuat studio yang membuatnya, Luminous Productions, harus dibubarkan. Ini adalah pelajaran mahal tentang pemborosan budget.
Penutup:
Nah, itu dia 10 game PS5 yang punya segalanya (grafis, hype, review bagus) tapi sayangnya bernasib apes di pasaran. Kebanyakan dari kegagalan ini bukan karena game-nya jelek, tapi karena timing rilis yang salah, marketing yang buruk, atau ekspektasi yang terlampau tinggi. Kabar baiknya, karena gagal, sebagian besar game ini sekarang bisa kamu dapatkan dengan harga miring, lho! Kalau ada yang menarik perhatianmu, langsung sikat! Mereka layak kamu coba, meskipun tidak layak mendapatkan nasib seburuk ini. Kalian pernah main salah satunya?***


















