Indogamers.com - Halo, Gamer! Siapa di sini yang ngefans banget sama serial Sword Art Online (SAO)? Kabar gembira sekaligus bikin penasaran datang dari Bandai Namco. Menjelang perilisan resminya pada 10 Juli 2026, mereka baru saja melepas demo publik untuk game RPG terbaru mereka, Sword Art Online: Echoes of Aincrad, di platform PC dan konsol.
Berbeda dari game-game sebelumnya, di sini kita nggak bakal memerankan Kirito si "Pendekar Pedang Hitam", melainkan membuat karakter avatar orisinal kita sendiri yang ikut terjebak di dalam kastil melayang Aincrad. Menarik banget, kan?
Baca Juga: Dinsos Nunukan Tangani Kasus Kecanduan Game Online Ekstrem, Edukasi bagi Orang Tua
Banyak gamer dan reviewer yang sudah mencicipi demo berdurasi beberapa jam ini. Hasilnya? Meskipun pondasi gameplay-nya dipuji karena terasa lebih taktis dan menantang ala genre Souls-lite atau Monster Hunter, komunitas fans justru ramai menyoroti beberapa masalah yang cukup mengganggu.
Berikut adalah 4 masalah utama yang dikeluhkan para pemain setelah mencoba demo Sword Art Online: Echoes of Aincrad:
1. Masalah Teknis dan Performa yang Masih "Jank"
Sebagai game modern yang rilis di tahun 2026, aspek visual game ini dinilai kurang konsisten. Beberapa pemain mengeluhkan adanya stuttering (patah-patah) saat bermain, penurunan frame rate, hingga bug di mana model karakter telat muncul saat cutscene. Bahkan, ada momen di mana audio suara karakter tidak sinkron dengan gerakan bibirnya (audio desync).
2. Kualitas Animasi Karakter yang Terasa Jadul
Meski visual latarnya dipuji indah—terutama desain langit dan langit-langit lantai atas Aincrad—hal yang sama tidak berlaku buat visual karakternya. Animasi berlari dan ekspresi wajah karakter dinilai kaku. Salah satu pemain di forum diskusi Steam bahkan berkomentar, "Wajah karakternya kelihatan aneh, datar, dan belum selesai digarap. Malah terasa kurang terpoles dibanding game SAO terdahulu."
3. Dunia "Open Area" yang Terasa Sepi dan Linear
Banyak fans awalnya berharap game ini akan menyuguhkan penjelajahan dunia terbuka (free roam) yang luas. Sayangnya, versi demo memperlihatkan bahwa game ini lebih terasa linear. Area eksplorasi dibatasi menjadi wilayah-wilayah kecil, dengan pola permainan JRPG klasik yang monoton: jalan ke depan, buka peti, lawan monster, lalu ulangi lagi. Kota pertama, Town of Beginnings, juga dikritik terasa "mati" karena NPC di dalamnya hanya berdiri diam tanpa aktivitas berarti.
4. Melanggar "Aturan Keramat" Lore Orisinal SAO
Bagi para fans garis keras anime-nya, poin ini yang paling memicu perdebatan. Di dalam cerita aslinya, game SAO tidak memiliki mekanik stamina (semuanya berbasis cooldown) dan sama sekali tidak ada elemen sihir (magic). Namun, game ini justru memasukkan indikator stamina dan atribut seperti "Intelligence" pada status item, serta adanya kemampuan area pemulihan (healing aura) yang dirasa terlalu mirip sihir. Fans merasa mekanik ini dipaksakan hanya demi mengikuti tren game Souls-like yang sedang naik daun.
Baca Juga: Kecanduan Game Online hingga Tidak Tidur Seminggu, Remaja Ini Jalani Rehabilitasi
Meskipun keluhan di atas cukup nyaring terdengar, respon terhadap sistem pertarungannya (combat) justru sangat positif. Mekanik menangkis (perfect parry) dan menghindar terasa sangat responsif dan memuaskan saat berhasil dieksekusi.
Mengingat ini masih versi demo, kita tentu berharap Bandai Namco bisa memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk memberikan update atau perbaikan performa sebelum game penuhnya resmi meluncur ke pasaran!***

















