Indogamers.com - Ada sebuah titik di mana jempol tidak lagi digerakkan oleh otot, melainkan oleh adrenalin murni. Bagi para pemain Alter Ego, titik itu datang tepat di tengah hiruk-pikuk Tennis Indoor Senayan, Sabtu, 24 Januari 2026.
Sabtu itu bukan sekadar hari pertandingan. Itu adalah sebuah maraton fisik dan mental yang tampak dirancang untuk mematahkan semangat siapa pun. Namun, bagi Alter Ego, sembilan babak yang mereka lalui dalam waktu kurang dari dua belas jam justru menjadi pondasi bagi salah satu kisah kebangkitan paling ikonik dalam sejarah M-Series.
1. Umpan yang Membungkam Sang GOAT
Hari dimulai dengan tantangan yang nyaris mustahil: Team Liquid PH. Saat skor terkunci imbang 2-2 di Semifinal Lower Bracket, atmosfer di arena mencapai titik didih. Di momen hidup-mati itulah, Alter Ego melepaskan mahakarya strategi yang meruntuhkan logika drafting internasional.
Awalnya, semua tampak normal. Alter Ego mengamankan Uranus. Seisi stadion, termasuk tim analis Liquid PH, meyakini hero tersebut akan mengisi posisi Exp Lane. Namun, kejutan sesungguhnya disimpan hingga detik terakhir. Saat last pick tiba, muncul ikon Cici dan Seketika, plot twist terungkap: Uranus berpindah tangan ke Yazuke untuk posisi Jungle.

Team Liquid PH juga tampak tidak siap dengan kejutan itu. Dalam press conference, pelatih Team Liquid PH, Rodel "Ar Sy" B.Cruz. menyebutkan kalau terkejut dengan draft pick yang diambil Alter Ego.
"Sebenarnya kami terkejut karena saya memperkirakan Uranus tersebut akan mengisi sisi EXP Lane. Tapi mereka bermain dengan baik," ungkap Ar Sy. "Bagi saya, ini berdasarkan pendapat pribadi, mereka benar-benar fokus melindungi Claude (all in on the Claude). Jadi mereka tidak peduli jika Jungle mereka tidak terlalu berguna atau semacamnya, selama Arfy menggunakan Claude... maksud saya draft kami tidak ada yang bisa membunuh Claude di akhir permainan," tambahnya.
2. Melawan Kelelahan dan Kebangkitan Raksasa Malaysia
Setelah menguras emosi melawan Liquid PH, Alter Ego hanya punya waktu singkat untuk membasuh wajah sebelum menghadapi Selangor Red Giants (SRG) di Final Lower Bracket.
Ajaibnya, Alter Ego justru tampil sangat dominan di awal, merebut dua game pertamanya dengan aman. Namun, SRG tetap bukanlah tim sembarangan. Di game ketiga, sang raksasa Malaysia ini bangkit dan mencuri kemenangan, memperkecil skor menjadi 2-1. Di sinilah mentalitas AE diuji, apakah kelelahan dari 8 game sebelumnya akan mulai melumpuhkan mereka?

Jawabannya adalah tidak. Seolah tidak terjadi apa-apa, Nino dan kawan-kawan masuk ke game keempat dengan fokus yang bahkan lebih tajam. Mereka memutus harapan comeback SRG dan menutup laga dengan skor 3-1.
3. Memecahkan Kutukan 7 Tahun
Keberhasilan Alter Ego menembus Grand Final M7 bukan hanya soal kemenangan biasa. Secara sejarah, Alter Ego baru saja mencatatkan tinta emas yang sangat langka.
Sejak M1 World Championship (2019), ketika RRQ Hoshi masuk ke final tanpa status juara MPL, belum pernah ada lagi tim Indonesia "Non-Juara MPL" yang mampu mengulangi prestasi tersebut. Selama tujuh tahun, Grand Final M-Series seolah menjadi area eksklusif bagi para pemegang takhta liga domestik.
Alter Ego, tim yang belum pernah mencicipi gelar juara MPL ID, berhasil memecahkan kutukan tujuh tahun tersebut. Mereka membuktikan bahwa mahkota dunia sangat mungkin bisa dikejar tanpa harus memiliki mahkota lokal terlebih dahulu. Jika RRQ melakukannya di era dominasi total Indonesia (All Indonesian Final), Alter Ego melakukannya di era modern yang jauh lebih kompetitif, di tengah kepungan raksasa Filipina dan Malaysia.
4. Last Battle Menghadapi Aurora PH
Hari ini, Minggu, 25 Januari 2026, babak terakhir dari dongeng ini akan ditulis. Alter Ego berdiri di Grand Final menantang raksasa Filipina lainnya: Aurora PH.
Secara statistik, kedua tim memiliki catatan yang mirip. Aurora PH juga merupakan tim yang pernah menumbangkan Team Liquid PH dan SRG dalam perjalanan mereka. Namun, ada satu perbedaan mencolok yang membuat narasi Alter Ego terasa lebih heroik. Itu adalah Waktu.

Jika Aurora PH mengalahkan raksasa-raksasa tersebut dengan jeda istirahat yang cukup melalui jalur Upper Bracket, Alter Ego melakukannya dalam satu hari yang brutal. Alter Ego datang ke final ini dengan sisa tenaga yang diperas habis, sementara Aurora datang dengan kesiapan penuh. Inilah yang membuat perjuangan Alter Ego layak disebut sebagai Cinderella Story, perjalanan si tak diunggulkan yang menantang sesuatu yang dianggap mustahil..
Sembilan babak telah dilalui. Kini, hanya tersisa satu langkah lagi untuk mengubah dongeng ini menjadi sejarah yang abadi. Akankah sepatu kaca ini tetap utuh hingga piala M7 terangkat? Masyarakat Indonesia di Indoor Tennis Senayan maupun di rumah bakal jadi saksi.***




















