Indogamers.com - Keriuhan teriakan penonton mengguncang arena. Di bawah sorot lampu panggung yang megah, piala berkilau menunggu untuk diangkat. Bagi jutaan pasang mata yang menyaksikan melalui layar kaca ataupun dari kejauhan, termasuk saya, kehidupan seorang pro player Mobile Legends tampak begitu glamor, popularitas yang tinggi, kontrak bernilai besar dari sejumlah brand, dan panggung yang penuh tepuk tangan dan teriakan dukungan.
Namun, jika kita memundurkan waktu beberapa tahun ke belakang, mereka-mereka yang berada di atas panggung itu hanyalah anak-anak biasa. Mereka pernah duduk di sudut-sudut warung kopi (warkop), sembari memikul keraguan orang tua, mengorbankan masa muda, dan mempertaruhkan masa depan yang masih abu-abu dan belum jelas terlihat.
Bagaimana sebenarnya gerbang karier itu terbuka, dan apa harga yang harus dibayar untuk segala popularitas dan kemegahan yang mereka dapatkan saat ini ? Inilah sedikit fakta yang Indogamers dapatkan dari mereka, di tengah perjuangan mereka di Babak Playoff MPL ID Season 17.
Dari Turnamen Warkop hingga Panggung MPL
Setiap bintang punya titik nol yang berbeda. Bagi sebagian orang, jalur menuju dunia profesional adalah tentang menangkap peluang yang terkadang tidak sengaja lewat. Morenooo, misalnya. Ia mengenang dirinya sebagai anak sekolahan biasa yang gemar bermain game.
"Kebetulan ada rezeki dan dinilai cukup bagus, sampai akhirnya dianggap layak. Saya juga ikuti pro scene sejak zaman MPL dulu, jadi dari sana muncul perasaan kalau sepertinya asyik jika bisa menjadi seorang pro player," kenang midlaner Bigetron By Vitality ini.

Lain Morenooo, lain pula Kiboy. Roamer veteran dari ONIC Esports ini melompat ke panggung tertinggi sejak tahun 2020 di MPL Season 5 melalui jalur undangan langsung dari sang CEO untuk mengikuti trial. Kiboy remaja yang saat itu duduk di bangku kelas 2 SMA, langsung terhipnotis oleh megahnya panggung MPL. "Saking pengennya, saya sampai jarang belajar, maksudnya jadi enggak fokus sekolah karena waktu habis dipakai latihan terus," aku Kiboy.

Sementara itu, bagi Nazara dan Shogun, aroma kopi dan asap rokok di turnamen tingkat komunitas adalah panggung pertama mereka.
"Awalnya saya memulai dari turnamen-turnamen tingkat warung kopi (warkop)," kata Nazara yang merupakan Jungler andalan dari Geek Fam. Baginya, esports adalah jawaban dari jiwa mudanya yang haus akan tantangan hidup. Strateginya terstruktur: kuasai turnamen warkop, lalu cari peruntungan di trial tim besar.

Shogun pun setali tiga uang. Diperkenalkan pada game oleh sang kakak, EXPlane Bigetron By Vitality yang awalnya seorang introvert dan kesulitan berkomunikasi ini, mulai memberanikan diri keluar dari zona nyaman lewat turnamen lokal, hingga kesempatan itu datang di kualifikasi Piala Presiden 2021. "Saya coba ikut dan alhamdulillah lolos mewakili regional Jawa. Bermula dari momen tersebut, saya mulai tertarik ke pro scene."
Harga Sebuah Ambisi: Pendidikan dan Kehilangan Kehangatan Rumah
Gemerlap panggung esports tidak dibeli dengan mata uang murah. Harganya adalah pengorbanan yang tidak main-main. Saat remaja seusia mereka sedang menikmati masa-masa SMA, nongkrong bersama teman sekelas, atau menikmati masakan ibu di rumah, para player ini harus mengemas koper mereka menuju Gaming House (GH).
"Yang dikorbankan lumayan banyak dan cukup berat. Pertama mungkin keluarga, karena saya harus tinggal jauh dari orang tua, nenek, tante, om," ungkap Morenooo. Tak hanya itu, ia juga harus mengambil keputusan besar, yaitu keluar dari sekolah negeri demi beralih ke homeschooling saat menembus MPL.

Nazara pun merasakan kepedihan yang sama. Berada di jalur ini membuatnya kehilangan banyak waktu pribadi. "Pendidikan saya, waktu bersama keluarga, dan juga waktu untuk orang yang saya cintai, seperti pasangan contohnya. Cukup banyak hal yang harus saya korbankan," tutur Nazara.
Sementara itu bagi Kiboy, waktu, keluarga, dan pendidikan adalah tiga pilar yang terpaksa dia lepas demi ambisinya. Selepas SMA, ia memilih tidak melanjutkan ke bangku kuliah. "Kalau soal pengorbanan, yang pasti itu waktu. Terus keluarga juga, karena posisinya harus jauh dari mereka. Terus ya... sekolah juga. Saya lulus SMA, tapi memutuskan untuk enggak lanjut kuliah. Tiga hal itu sih pengorbanan terbesarnya," Ungkapnya.
Keluarga dan Jiwa Kompetitif sebagai Bahan Bakar
Perjalanan menjadi Pro Player tentu bukan sebuah perjalanan yang mudah. Ada banyak badai permasalahan yang akan datang, menguji mental mereka hingga titik yang paling rendah. Mulai dari kekalahan beruntun, kejenuhan latihan belasan jam sehari, hingga hujatan netizen di media sosial, mereka pun dituntut untuk tetap menjaga kewarasannya agar terus melangkah.
Misalnya Nazara, yang baru saja mengalami kekalahan pahit, pasca melawan ONIC, akibat miss-gameplay dan eksekusi yang terburu-buru, memiliki benteng pertahanannya sendiri untuk menjaga mentalnya tetap waras. "Triknya dengan tidak membaca komentar di TikTok dan Instagram dulu untuk sementara waktu. Lebih baik mencari kesibukan atau hiburan lain bersama tim untuk menyegarkan pikiran," ujarnya.
Berbeda dengan Nazara, bagi Aran, bahan bakar motivasi utamanya adalah gabungan antara ego kompetitif dan cinta tanpa syarat dari keluarga. "Motivasi terbesar saya dari dulu sampai sekarang adalah keinginan untuk selalu menang melawan siapa pun," tegas Aran. Namun, di balik jiwa petarung itu, ada sisi lembut yang ia simpan. "Nomor satu sudah pasti keluarga. Ibu, Ayah, dan Mbah (nenek/kakek). Setiap kali Mbah menyempatkan datang langsung, itu luar biasa menambah semangat saya di panggung."

Meskipun merahasiakan apa yang telah ia berikan dari hasil keringatnya di esports, Aran tersenyum dan memastikan semua pencapaiannya didedikasikan khusus untuk orang-orang tercinta di rumah.
Di sisi lain, Shogun melihat rekan satu tim dan manajemen sebagai jangkar pelindungnya ketika berada dalam titik terendah. "Jelas yang pertama adalah teman-teman saya yang ada di sini semua, termasuk mereka yang ada di backstage. Semua yang menjadi bagian dari keluarga Bigetron. Yang kedua, pastinya keluarga kandung saya."
Berdamai dengan Masa Lalu dan Pesan untuk Masa Depan
Saya pun tergelitik untuk menanyakan kepada mereka, jika sebuah mesin waktu diciptakan, pesan apa yang ingin mereka sampaikan pada diri mereka yang dulu, saat baru memulai melangkah?
"Just be brave, and just take the risk (Beranilah, dan ambil risiko itu)," kata Shogun, mengingat dirinya yang dulu seorang introvert penakut. Sementara Aran dan Kiboy sepakat bahwa rasa percaya diri adalah kunci. "Saya merasa sudah aman dan enggak ada keinginan untuk balik ke masa lalu karena dari awal saya selalu yakin," ucap Kiboy dengan penuh percaya diri.

Sementara, Nazara menyelipkan refleksi yang lebih melankolis: "Jangan terlalu terburu-buru dalam melangkah. Belajarlah untuk bisa membagi waktu dengan baik bersama orang-orang yang kita sayang."
Untuk kalian, jutaan anak muda yang hari ini masih terjebak di tier publik dan bermimpi merasakan megahnya panggung MPL, para bintang ini menitipkan pesan realitas yang jujur.
Bagi mereka, Esports bukan tempat pelarian bagi mereka yang malas sekolah. Moreno berpesan, "Sebisa mungkin selesaikan dulu pendidikan kalian, karena pendidikan itu cukup penting." Namun, jika api ambisi itu sudah tidak bisa dipadamkan lagi, Aran merangkum lima hal yang wajib dibawa: Niat yang kuat, motivasi mendalam, dedikasi waktu, mentalitas pantang menyerah, dan kerja keras tingkat tinggi (try hard).

Kiboy juga menitikberatkan pentingnya niat yang kuat agar tetap bisa melangkah terus dan tidak tumbang di tengah jalan. "Kalau mau masuk ke pro scene, sebenarnya yang paling penting itu niat. Tanpa niat yang kuat, kita enggak akan bisa bertahan. Saya kenal banyak teman yang akhirnya berhenti atau gagal di tengah jalan, itu rata-rata karena mereka enggak niat. Jadi, modal utamanya adalah niat dan memang harus punya bakat. Kalau kalian merasa berbakat dan punya niat yang kuat, sudah pasti bisa," jelasnya.
Sebab pada akhirnya, panggung megah MPL hanya menyisakan tempat bagi mereka yang tidak hanya berbakat, tetapi juga mereka yang berani terluka, jatuh dan bangkit kembali. Seperti kata Nazara, "Jika kalian pernah merasa tidak layak, saya pun dulu sempat berpikir demikian. Kuncinya adalah tetap semangat dan jangan berhenti belajar," tutupnya.






















