Indogamers.com - Pengungkapan jaringan besar penjual cheat gim Mobile Legends: Bang Bang oleh Siber Polda Jawa Tengah kembali memunculkan sorotan terhadap keamanan ekosistem game online.
Meski kasus ini berhasil dibongkar, para pakar menilai bahwa fenomena cheat yang terus muncul menunjukkan adanya tantangan struktural dalam industri gim, termasuk pada sistem yang dikembangkan oleh Shanghai Moonton Technology Co., Ltd..
Pemerhati game online dari Universitas Pamulang, Demo Satria, menilai bahwa keberadaan cheat bukan semata-mata akibat lemahnya sistem, tetapi lebih pada pola “perang berkepanjangan” antara pembuat cheat dan pengembang.
“Dalam game online yang punya jutaan pemain aktif, munculnya cheat adalah konsekuensi alami. Pengembang menutup celah, pembuat cheat membuka celah baru. Ini seperti lingkaran tanpa akhir,” ujar Demo Satria ketika dimintai tanggapan, Kamis (4/16/2026).
Menurutnya, karakter Android yang lebih terbuka membuat aplikasi modifikasi seperti cheat APK relatif mudah dikembangkan dan dijual. Hal inilah yang dimanfaatkan pelaku berinisial DAR (22), yang memproduksi cheat secara mandiri sebelum memasarkannya melalui platform digital.
Selama bertahun-tahun, jaringan tersebut menjual cheat dengan harga Rp15.000–Rp270.000 melalui kanal seperti Telegram. Pembeli kemudian menerima file APK dan akses login server khusus untuk menggunakan cheat tersebut.
Demo Satria menegaskan bahwa peredaran cheat tidak hanya merugikan pengalaman bermain, tetapi juga merusak ekosistem kompetitif.
“Cheat yang memungkinkan pemain melihat posisi musuh atau memodifikasi mekanik permainan secara langsung merusak fairness,” tambahnya.
Pendapat ini sejalan dengan pernyataan aparat. Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah Kombes Pol. Himawan Sutanto Saragih sebelumnya menyebut perilaku ini sebagai ancaman serius.
“Ini bukan sekadar pelanggaran biasa, tetapi ancaman terhadap integritas sistem dan ekosistem game itu sendiri,” tegas Himawan, Selasa (14/4).
Dari sisi ekonomi, pelaku diperkirakan meraup ratusan juta rupiah dari bisnis ilegal ini. Sementara kerugian yang dialami pengembang ditaksir mencapai lebih dari Rp2,5 miliar sejak 2022, seiring masifnya distribusi cheat.
Meski demikian, Demo Satria menilai langkah Moonton melaporkan kasus ini menunjukkan adanya komitmen untuk memperkuat pengawasan.
“Pengembang tidak tinggal diam. Ini bukti mereka aktif menindak lanjutan, bukan hanya memperbaiki sistem,” ujarnya.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa kejahatan digital kini menjangkau sektor hiburan. Polisi memastikan investigasi masih berjalan dan tidak menutup kemungkinan ada jaringan lain yang terlibat.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol. Artanto mengimbau masyarakat untuk tidak terjebak iming-iming keuntungan instan.
“Jangan sampai tergiur keuntungan sesaat. Aktivitas seperti ini jelas melanggar hukum dan merugikan banyak pihak, termasuk pemain lain dan pengembang,” ujarnya.
Menurut Demo Satria, edukasi kepada pemain menjadi faktor yang tidak kalah penting untuk mengurangi demand cheat.
“Selama ada yang membeli, cheat akan terus ada. Pengembang dan komunitas harus bekerja sama menekan budaya curang ini,” pungkasnya.















