Aroma Kaldu di Sela Sorak Para Penonton M7, Cerita Pak Anto dan Berkah Esports Mobile Legends di MPL Arena

Aroma Kaldu di Sela Sorak Para Penonton M7, Cerita Pak Anto dan Berkah Esports Mobile Legends di MPL Arena(FOTO: Indogamers/Rozi)

Indogamers.com - Perhelatan kompetisi Mobile Legends, M7 World Championship mengundang sejumlah penggemar esports ke kawasan XO Hall (MPL Arena), Jakarta Barat. Namun, di tengah hiruk-pikuk penggemar esports yang memadati arena, ada aroma yang tak kalah memikat dibanding antusiasme penonton: perpaduan gurih kuah bakso dan legitnya bumbu kacang siomay yang mengepul di udara.

Bagi sebagian besar pengunjung, MPL Arena kemarin adalah arena pertempuran digital tempat para atlet Mobile Legends terbaik dunia memperebutkan takhta juara. Namun bagi para pedagang kaki lima di sekitarnya, pelataran gedung tersebut adalah ladang rezeki yang telah menghidupi mereka di tengah gemerlap industri game modern Mobile Legends.

Dua di antara pedagang itu adalah Pak Anto dan Mas Andi, wajah-wajah lama yang setia melayani perut para suporter ataupun kru Mobile Legends sejak tahun 2019.

Pak Anto: Saksi Bisu Sejak MPL Pertama

Pak Anto, pria berusia 43 tahun asal Wonogiri, bukanlah orang baru di kerasnya kehidupan Jakarta. Ia telah merantau ke Ibu Kota sejak tahun 1997, masa di mana istilah esports bahkan belum terdengar di telinga awam. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Betawi, ia setia dengan profesinya sebagai pedagang bakso.

Jejak langkah Pak Anto di kawasan XO Hall terbilang panjang. Ia sudah menambatkan gerobaknya di sana sejak tahun 2019, tepat saat MPL ID pertama kali menjadikan gedung ini sebagai arena pertarungan.

Tak jauh dari gerobak Pak Anto, ada Mas Andi yang juga sibuk melayani pembeli. Sama seperti rekannya, Mas Andi adalah veteran di kawasan XO Hall sejak 2019. Bagi Mas Andi, keramaian di MPL Arena adalah sinyal bahwa dapurnya akan tetap mengepul.

Mas Andi yang sedang melayani pelanggan (FOTO:Indogamers/Rozi)

"Alhamdulillah, adanya kegiatan MPL di sini memang pengaruh banget ke pendapatan. Termasuk pas M7 ini, meski ga seperti waktu MPL ID, masih kerasa bedanya dibanding hari biasa," ungkap Mas Andi.

Melayani Bule hingga Tim Landak Kuning

Kini, saat mata dunia tertuju pada M7 World Championship, para pedagang ini menjadi saksi bagaimana turnamen internasional membawa gelombang manusia yang berbeda. Gerobak sederhana Pak Anto menjadi tempat bertemunya berbagai kalangan.

Ada pengalaman menggelitik ketika Pak Anto harus melayani pembeli asing di tengah keterbatasan bahasa. Karena bingung dengan mata uang Rupiah, para turis tersebut dengan penuh rasa percaya menyodorkan dompet mereka, mempersilakan Pak Anto mengambil sendiri nominal yang sesuai.

"Pas mau bayar, mereka buka dompet atau kasih uangnya ke saya, suruh saya pilih dan ambil sendiri duitnya. Ya saya ambil sesuai harga saja," kenang Pak Anto. Sebuah interaksi sederhana yang menunjukkan kejujuran pedagang kecil Indonesia di mata dunia.

Tak hanya penonton asing, lidah para bintang esports pun ternyata cocok dengan racikan Pak Anto. Ia punya kenangan tersendiri saat melayani punggawa tim ONIC Esports. Saat itu, Sang Landak Kuning sedang bersiap menghadapi laga krusial di fase knock out pertama melawan Alter Ego.

Pak Anto langsung mengenali mereka bukan dari wajah, melainkan dari atribut mencolok yang mereka kenakan.

"Saya tahu itu tim ONIC, soalnya pembelinya pakai seragam khas warna kuning dan ada logo landaknya," cerita Pak Anto antusias. Baginya, melayani atlet yang akan bertanding di panggung megah memberikan kebanggaan tersendiri.

Antara M7 dan MPL ID

Walaupun M7 membawa keramaian internasional dan kehadiran tim-tim besar, Pak Anto dan Mas Andi tetap memiliki ritme mereka sendiri. Pak Anto mencatat bahwa keuntungan justru lebih deras saat musim reguler MPL ID berlangsung dibandingkan saat M7 Swiss Stage.

"M7 ini rame ada bule-bulenya, tapi kalau boleh jujur, masih panen pas MPL biasa. Mungkin beda penontonnya ya," ungkap Pak Anto jujur.

Setiap harinya, Pak Anto mulai menggelar dagangannya sejak pukul 2 siang hingga 7 malam. Bersama Mas Andi dan pedagang lainnya, mereka membuktikan bahwa kompetisi esports dan tradisi kuliner kaki lima bisa berjalan beriringan.

Di balik megahnya panggung Babak Swiss Stage M7 kemarin, ada sosok kecil yang memastikan perut para penonton, bahkan para atletnya, tetap kenyang sebelum bertempur.***

Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI