Indogamers.com - Tennis Indoor bergetar. Gempita suara announcer yang meneriakkan “Welcome to M7!” disambut riuh ribuan pasang mata yang memadati arena kompetisi kasta tertinggi, M7 World Championship. Di atas panggung megah, sorotan lampu mengikuti gerak tangkas jari para atlet e-sports kelas dunia yang bertarung demi supremasi. Namun, tepat di balik tirai hitam yang membatasi kemewahan itu, ada sebuah perjuangan kolektif yang dilakoni oleh pasukan tak terlihat dari Koperasi GBK.
Mereka adalah tim petugas kebersihan, sosok-sosok yang mendedikasikan tenaga dan waktunya demi memastikan setiap jengkal arena tetap steril dan nyaman bagi ribuan penonton, tamu VIP, hingga awak media. Meski keberadaan mereka jarang tertangkap kamera, merekalah yang menjaga kenyamanan ajang internasional ini melalui kebersihan yang terjaga sepanjang penyelenggaraan M7.
Indogamers mencoba untuk menggali lebih dalam lagi mengenai seperti apa proses yang dilakukan oleh para petugas kebersihan dari Koperasi GBK ini. Kami pun bertemu dengan Dwi Sunyoto, salah satu petugas Kebersihan Event di Tennis Indoor Senayan Jakarta, tempat berlangsungnya M7 World Championship.

Ditemui di lokasi acara M7 dan sedang menikmati waktu istirahatnya, Dwi menyampaikan beberapa hal mengenai seperti apa pengelolaan sampah di event internasional M7 World Championship, serta sejumlah kisah hidupnya.
Sistem Kerja dan Profesionalisme di Tengah Event
Menjaga standar kebersihan ajang internasional sebesar M7 memang menuntut manajemen kerja yang ketat. Menurut Dwi, Koperasi GBK mengerahkan personelnya dalam pembagian waktu kerja yang teratur. Khusus untuk area kompetisi M7, setidaknya ada 23 orang yang disiagakan setiap harinya dengan status pekerja harian lepas atau freelance. Mereka dibagi ke dalam tiga shift kerja:
Shift Pagi (06.00 – 14.00 WIB): 7 personel.
Shift Siang (14.00 – 22.00 WIB): 9 personel.
Shift Malam (22.00 – 06.00 WIB): 7 personel.
Seluruh tim ini telah bersiaga sejak tahap loading in pada pertengahan Januari dan akan terus bekerja hingga 3 - 4 hari setelah acara M7 berakhir.

Sebagai penunjang, panitia menyediakan fasilitas dasar bagi mereka seperti makanan dan juga minuman.
Namun, tantangan sesungguhnya ada pada ketatnya protokol area VIP. Pada area-area itu, Dwi dan petugas kebersihan tidak bisa masuk sembarangan. Mereka baru boleh masuk kalau dari PIC ruangan memanggil mereka.

Indogamers menemukan situasi ini di lapangan. Pada waktu itu di media room sedang diadakan press conference, sementara ada petugas kebersihan event yang hendak masuk. Saat itu mereka dilarang ole PIC ruangan dan diminta untuk menunggu hingga proses wawancara selesai.
Tantangan dalam Mengelola Sampah M7
Salah satu titik yang sering kali menjadi ujian kesabaran bagi tim kebersihan adalah area-area operasional event M7. Di lokasi-lokasi yang menjadi pusat aktivitas internal ini, sampah sering kali ditemukan berserakan di meja kerja atau sudut ruangan. Tim harus berjibaku membersihkan beragam limbah konsumsi harian, mulai dari kotak makanan, botol plastik air mineral, hingga kaleng softdrink.

Setelah dikumpulkan, seluruh sampah ini dibawa ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang nantinya diangkut truk dinas lingkungan. Namun, di tengah tumpukan limbah tersebut, tim kebersihan masih melihat celah peluang ekonomi.

Sampah-sampah yang memiliki nilai jual tinggi, seperti kardus bekas, dipilah secara telaten oleh para petugas untuk dijual kembali sebagai penghasilan tambahan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dwi, "Ada anak-anak yang pilih kardus buat dijual nanti setelah event. Kalau botol-botol itu mengumpulkannya susah karena butuh tempat banyak." Bagi mereka, kardus bekas bukan sekadar sampah, melainkan tambahan pundi-pundi rupiah yang sangat berharga.
Duet Pejuang Hidup, Strategi Bertahan Demi Keluarga
Selain bicara mengenai tim kebersihan event GBK, Dwi pun berkisah mengenai pengalamannya selama bekerja di event M7.
Dari yang ia paparkan, ternyata di acara ini, istri Dwi juga turut bekerja sebagai petugas kebersihan, tapi beda shift. Hal ini dilakukan demi memastikan kelima anak mereka tetap terjaga di rumah, pasangan ini harus mengambil jalan yang tidak mudah: mereka tidak boleh berada di satu shift yang sama.
Duet ini bekerja dalam sistem "estafet". Ketika Dwi berangkat bertugas, sang istri berada di rumah menjaga anak-anak, begitu pun sebaliknya. Penempatan shift yang berbeda ini adalah sebuah keharusan, bukan pilihan. “Istri bantu juga, sama (posisinya). Tapi mintanya beda shift, jadi bisa jaga anak gantian,” tegas Dwi.

Keputusan ini adalah bukti dedikasi mereka sebagai orang tua. Mengingat anak-anak mereka masih membutuhkan perhatian, dari yang tertua di SMA hingga si bungsu yang masih berusia 5 tahun, perbedaan jadwal kerja ini menjadi jembatan agar dapur tetap "ngebul" tanpa mengorbankan kehadiran orang tua bagi anak-anak di rumah.
Bahan Bakar Semangat, Dari Bartender ke Petugas Kebersihan Event
Bagi Dwi, pekerjaan ini adalah lembaran baru setelah sepuluh tahun meracik minuman sebagai bartender profesional di kawasan Blok M. Faktor usia membuatnya harus berpindah haluan.
Mengenai upah, Dwi merasa cukup puas dengan apa yang didapat dari kerja kerasnya di M7. Ketika ditanya apakah nilainya "oke", ia menjawab dengan mantap, "Oke sih, lumayan. Event itu lumayan". Motivasi terbesarnya tetap sama: keluarga. "Mau bagaimana lagi, keadaan juga. Anak banyak, tanggungan banyak. Yang penting dapur ngebul istilahnya kan," tambahnya.

Pada akhirnya, bagi Dwi dan juga petugas kebersihan event lainnya, perhelatan M7 World Championship bukan sekadar panggung megah bagi para atlet dunia, melainkan saluran berkat yang nyata bagi keluarganya. Di balik lelahnya menjalankan sistem tiga shift, ia menemukan rasa syukur karena upah harian dari event ini dianggapnya cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Jadi, saat Aurora PH mengangkat trofi M7 yang berkilauan di bawah hujan konfeti, Dwi dan tim petugas kebersihan event Koperasi GBK lainnya mungkin sedang bersiap dengan sapu, kain pel dan juga plastik sampah. Mereka adalah salah satu pahlawan tanpa tanda jasa di balik layar yang memastikan panggung sejarah e-sports M7 World Championship tetap bersih dan bermartabat.***