Indogamers.com - Attack on Titan (AoT) mungkin sudah tamat, namun perdebatan mengenai akhir kisahnya masih terus membara hingga tahun 2026 ini. Baru-baru ini, sang kreator, Hajime Isayama, memberikan pengakuan mengejutkan yang tertulis pada sebuah plakat di Museum Attack on Titan, Kota Hita, Jepang. Isayama mengungkapkan adanya rasa ketidakjujuran (insincerity) dalam cara ia mengakhiri perjalanan Eren Yeager.
Kenapa sang maestro merasa tidak puas dengan mahakaryanya sendiri? Berikut adalah poin-poin penting yang terungkap:
1. Transformasi dari Korban Menjadi Pelaku
Isayama menjelaskan bahwa sejak awal, ia ingin menciptakan narasi di mana sang korban berubah menjadi pelaku kejahatan (perpetrator). Eren melakukan pembantaian massal dalam skala yang jarang terlihat di fiksi lain. Isayama mengakui bahwa ide ini lahir dari ketidakdewasaan dan kebodohan dirinya saat masih berusia awal 20-an.
2. Dilema Simpati vs Kebencian
Bagian paling menarik adalah pengakuan Isayama soal perasaannya terhadap Eren. Seiring populernya seri ini, Eren bukan lagi milik Isayama sendiri, melainkan milik jutaan pembaca.
Dilema: Isayama ingin menggambarkan Eren sebagai sosok yang patut dibenci karena keinginannya untuk mencelakai orang lain.
Realita: Namun, Isayama justru merasa terlalu dekat dan bersimpati pada Eren saat menulis bagian akhir.
Dampaknya: Akibat gagal berkomitmen penuh untuk menjadikan Eren sosok yang sepenuhnya detestable (layak dibenci), Isayama merasa ada kesan insincere atau tidak jujur dalam konklusi cerita tersebut.
3. Ending yang Memecah Penggemar
Sejak manga-nya berakhir pada 2021 dan anime-nya pada 2023, komunitas AoT memang terbelah. Sebagian menganggap penurunan Eren menjadi villain adalah perkembangan yang brilian, sementara yang lain merasa transisi tersebut terburu-buru dan kurang pengembangan karakter yang solid. Isayama bahkan sempat merilis halaman tambahan pasca-tamat, namun tetap tidak bisa memuaskan semua pihak.
4. Pengaruh ke Versi Anime
Meskipun versi anime memberikan beberapa tambahan kecil yang tidak ada di manga, Isayama merasa perasaan tidak puas ini tetap melekat karena inti ceritanya tetap sama. Pengakuan di museum ini seolah menjadi pesan terbuka Isayama kepada para penggemar setianya mengenai perjuangan batinnya sebagai penulis.
Pengakuan Isayama ini sangat manusiawi. Sebagai penulis, terkadang karakter yang kita ciptakan tumbuh melampaui rencana awal kita karena tekanan audiens atau kedekatan emosional sang penulis sendiri. Bagi kamu yang merasa ending AoT kurang memuaskan, pengakuan ini mungkin bisa menjadi jawaban bahwa sang pencipta pun merasakan hal yang sama.
Attack on Titan akan tetap tercatat sebagai salah satu manga paling berpengaruh dalam sejarah. Meski sang kreator merasa ada yang kurang, kompleksitas moral yang ia hadirkan tetap menjadi standar tinggi dalam dunia storytelling.
Gimana menurut kamu, apakah kamu termasuk tim yang suka dengan ending Eren, atau setuju dengan Isayama bahwa Eren seharusnya digambarkan lebih kejam lagi tanpa perlu simpati?***