Indogamers.com - Halo, para pencinta FPS! Masih ingat dengan Splitgate? Game shooter unik yang sempat meledak karena menggabungkan aksi tembak-menembak intens ala Halo dengan mekanik portal teleportasi ala Portal ini baru saja merilis sekuelnya, Splitgate 2.
Namun, alih-alih meledak dan menjadi primadona baru di awal tahun 2026, peluncurannya justru terasa "adem ayem". Padahal, tim marketing 1047 Games sudah melakukan strategi yang cukup berani (dan kontroversial) sebelumnya untuk memuluskan jalan sekuel ini.
Penasaran apa yang sebenarnya terjadi? Yuk, kita bedah lewat 4 poin analisis di bawah ini!
1. Angka Pemain di Steam yang Kurang Greget
Setelah resmi meluncur, statistik menunjukkan angka yang kurang menggembirakan bagi pengembang. Berdasarkan data dari SteamDB, Splitgate 2 hanya mencatatkan angka pemain puncak (all-time peak) di kisaran 8.355 pemain saja pada periode peluncurannya.
Angka ini tergolong sangat kecil untuk ukuran game free-to-play (F2P) yang digadang-gadang jadi hit besar dan memiliki basis penggemar yang dulu masif. Jika dibandingkan dengan antusiasme game pertamanya yang sempat menembus puluhan ribu pemain dan menyebabkan server jebol, angka ini jelas sebuah penurunan drastis.
2. Strategi Unlaunch yang Jadi Bumerang?
Sebelum sekuel ini rilis, pengembang sempat melakukan langkah kontroversial dengan menghentikan dukungan pengembangan untuk game pertama (Splitgate 1) demi fokus total ke proyek baru ini. Strategi yang mereka sebut sebagai "Unlaunching" ini sempat menuai kritik pedas dari komunitas setianya.
Tampaknya, langkah "mematikan" game lama tidak otomatis membuat pemain setianya langsung berbondong-bondong pindah ke game baru. Rasa kecewa karena ditinggalkan mungkin justru membuat sebagian komunitas enggan untuk berinvestasi waktu kembali di sekuelnya.
3. Identitas yang Hilang: Arena Shooter vs Hero Shooter
Beberapa laporan dan ulasan pengguna menyebutkan bahwa salah satu alasan sepinya pemain adalah perubahan mekanik gameplay yang fundamental. Splitgate 2 kini memperkenalkan sistem Factions (Faksi) dengan kemampuan unik, yang membuat game ini terasa lebih mirip dengan hero shooter modern seperti Overwatch atau Valorant.
Sayangnya, bagi penggemar berat seri pertama, perubahan ini justru dianggap menghilangkan identitas "Arena Shooter" murni yang dulu mereka cintai. Mereka merindukan kesederhanaan di mana semua pemain memiliki start yang sama, bukan bergantung pada skill karakter yang rumit.
4. Respon Dingin dan Ancaman Live-Service
Melihat angka yang stagnan, banyak pihak mulai mempertanyakan masa depan game ini. Meskipun masih terlalu dini untuk menyebutnya gagal total, mengingat game ini masih baru dan tersedia di berbagai platform konsol selain PC, kurangnya "hype" di minggu pertama biasanya menjadi sinyal merah alias Red Flag bagi game berbasis layanan (live-service). Tanpa basis pemain yang besar di awal, sulit bagi pengembang untuk menjaga keberlangsungan konten jangka panjang.
Kata Pengamat
Menanggapi situasi pasar yang sulit bagi genre shooter saat ini, realita di lapangan menunjukkan tantangan yang jauh lebih berat dari sekadar optimisme pengembang.
"Pasar saat ini sangat padat, dan menarik perhatian pemain adalah tantangan terbesar kami," ungkap salah satu pengamat industri menanggapi fenomena sepinya Splitgate 2, dikutip dari Video Games Chronicle.
Penutup
Nah, kalau menurut kalian gimana, Sobat Gamers? Apakah Splitgate 2 masih punya peluang untuk bangkit (comeback) lewat update-update barunya, atau memang masanya sudah lewat dan pemain lebih memilih shooter lain?
Tulis pendapat jujur kalian di kolom komentar ya!***


















