Comeback is Real: OG Juara The International 2018 Setelah Secara Dramatis Mengalahkan Favorit Juara PSG.LGD

Comeback is Real: OG Juara The International 2018 Setelah Secara Dramatis Mengalahkan Favorit Juara PSG.LGD

Vancouver, Kanada, 26 Agustus 2018 — Sebuah keajaiban terjadi pada turnamen tahunan terbesar dari game MOBA Dota 2, The International tahun 2018 alias TI8. Melawan segala prediksi, ekspektasi serta logika, OG Dota membuktikan diri bahwa semangat pantang menyerah dan pengorbanan yang disertai dengan kemampuan mumpuni dapat menciptakan keajaiban. Tim Eropa ini pulang dengan predikat juara pertama The International 2018 dan hadiah uang sebesar 11,2 juta dollar US (sekitar 163 milyar rupiah!!!!). 

Juara The International 2018 Dota 2: OG Dota

Mengapa OG menjadi juara TI8 adalah hal yang luar biasa?

Dibalik manisnya menjadi juara dan hadiah uang melimpah bagi OG, terdapat sebuah kisah yang akan membuat orang sulit untuk percaya. Mereka melewati musim Dota Pro Circuit dengan buruk dan tak mendapat jatah lolos langsung ke TI8 dari ranking DPC. OG terpaksa mengikuti kualifikasi terbuka Ti8 dimana mereka memenangkan kualifikasi utama sekaligus jatah berpartisipasi di TI8 dengan tiga orang member yang sama sekali baru, karena tiga anggota lamanya pergi meninggalkan mereka demi kesempatan berprestasi bersama tim-tim besar. 

Pada bulan Maret silam, Roman "Resolut1ion" Fominok hijrah ke VGJ.Storm. Lalu diikuti kepergian mengejutkan kapten Tal "Fly" Aizik dan Gustav "s4" Magnusson. Mereka berdua memilih hijrah ke tim asal Amerika, Evil Geniuses.  Khusus Fly, selain kapten, ia adalah salah satu pendiri OG Dota sekaligus teman baik dari pentolan OG saat ini, Johan "N0tail" Sundstein". 

Fly (kiri) dan N0tail semasa masih bersama di OG. Mereka berdua telah akrab seperti saudara sejak 10 tahun silam

Kepergian tiga pemain bintang berpengalaman tersebut nyaris mengancam keikutsertaan OG di TI8 karena saat itu, mereka hanya punya waktu dua bulan untuk mencari dan berlatih bersama anggota-anggota baru. Pada akhirnya sang pelatih, Sebastien "7ckngMad" Debs memutuskan turun langsung sebagai pemain. OG lalu menambahkan dua pemain lagi untuk melengkapi skuad mereka. Topias "Topson" Taavitsainen yang relatif baru dalam dunia pro Dota, dimana The International 2018 adalah turnamen LAN pertama dalam karirnya. Setelah Topson, OG lalu memanggil kembali mantan Carry mereka yang sempat hiatus dari dunia pro Dota, Anathan "ana" Pham. 

Karena kedatangan dua pemain tersebut, OG musti beradaptasi dengan melakukan beberapa perubahan. N0tail berganti peran menjadi Hard Support sedangkan 7ckngMad bermain di posisi Offlane. Ana dan Topson bermain di posisi 1 dan 2 sedangkan Jesse "JerAx" Valnikka bermain sebagai tier 4. 

Tak heran jika para penggemar Dota 2 tak memperhitungkan OG sebagai kandidat juara. Selain musim yang buruk, mereka juga ditinggal para pemain bintangnya dan "hanya" mampu mencari seorang newbie serta pemain yang lama tak bermain di dunia pro sebagai pengganti. Belum lagi waktu persiapan mereka dengan roster tersebut tak banyak, hanya dua bulan. Tentu sulit bagi orang-orang untuk menjagokan OG. 

 

Perjalanan OG Dota di The International 2018

Namun pelan tapi pasti, OG terus membuktikan diri. Pada fase grup TI8, mereka finis di peringkat keempat Grub A, posisi terakhir untuk mendapatkan jatah upper bracket. Untiknya, dalam event utama Ti8, mereka langsung berhadapan dengan VGJ.Storm yang diperkuat Resolut1on. N0tail dkk tentunya tak akan hanyut melawan seseorang yang beberapa bulan lalu mereka panggil "kawan". Mereka menghabisi VGJ.Storm 2-0 tanpa balas. 

Di sinilah, seperti diatur oleh takdir. OG bertemu dengan Evil Geniuses, yang diperkuat oleh mantan kapten dan mantan pemain mereka, Fly dan s4. Pertandingan ini disebut-sebut sebagai ajang balas dendam bagi N0tail dan memang, ia berhasil membuktikan pada mantan kaptennya tersebut (entah apakah juga mantan teman?) bahwa ia masih bisa berprestasi tanpa dirinya dengan menggulung EG 2-1. 

Usai OG menundukkan Evil Geniuses, N0tail (kanan) berjabatan tangan dengan eks kapten sekaligus (eks?) teman dekatnya selama 10 tahun terakhir, Fly

Setelah menuntaskan laga melawan EG, OG pun harus berhadapan dengan tim favorti juara sekaligus salah satu tim yang paling ditakuti tim-tim lainnya, PSG.LGD dari Tiongkok. Sebuah tim yang lolos langsung ke TI8 karena bertengger di posisi ketiga ranking DPC. LGD juga merupakan perwakilan dari tim sepakbola raksasa asal Prancis, Paris-Saint Germain sejak bulan April lalu. Ditambah lagi sebuah rumor akan kutukan Barat-Timur yang beredar luas di komunitas Dota 2 dunia dimana tim asal Tiongkok selalu menjuarai The International di tahun genap, sedangkan tahun barat dijuarai oleh tim-tim barat. Maka dari itu, banyak yang menganggap OG hanyalah aji mumpung bisa mencapai final upper bracket. Semua orang yakin langkah mereka akan terhenti oleh PSG.LGD. 

Siapa sangka, prediksi dan ekspektasi orang-orang meleset. OG mencuri start, menggunakan duet Gyrocopter-Io untuk memenangkan game pertama. LGD melawan balik dengan Storm Spirit yang dikendalikan Lu "Somnus" Yao dan sukses memenangkan game kedua. Pada pertandingan ketiga terjadi pertarungan sengit antar kedua tim dan saat itu disebut-sebut sebagai pertandingan terbaik selama TI8 berlangsung. OG pun menjadi pemenang dari upper bracket setelah melakukan comeback luar biasa dan memenangkan pertandingan ketiga pada menit 58. Mereka pun melenggang ke Grand Final. 

Dalam laga Grand Final, OG Dota kembali dipertemukan dengan PSG.LGD yang sukses menekuk Evil Geniuses dengan dua kemenangan tanpa balas. Seruan akan kutukan Barat-Timur pun semakin menguat, bahkan melebihi sebelumnya. PSG.LGD diyakini orang-orang seperti ditakdirkan untuk menjuarai TI8. 

 

Laga Grand Final yang akan selalu diingat: Comeback is REAL

Laga Grand Final yang bisa dibilang merupakan pertandingan eSports terbesar tahun 2018 ini menyuguhkan tontonan yang luar biasa seru. Pantas untuk disebut laga Grand Final, dan akan sulit dilupakan bagi mereka yang menyaksikan. 

 

 

Bagaimana tidak, butuh 5 pertandingan sebelum dunia bisa memastikan siapa yang menjadi juara dari TI8. Dalam laga yang berformat best-of-five (BO5) ini, baik OG Dota maupun PSG.LGD saling kejar-kejarani satu sama lain sebelum pada akhirnya OG menyudahi perlawanan tin Tiongkok tersebut dengan skor akhir 3-2. 

Seperti pada laga final upper bracket, OG kembali memenangi game pertama dimana Spectre dari Ana dan pilihan OG untuk menggunakan Treant Protector untuk melindungi mereka dari push LGD yang terkenal kuat terbukti terlalu ampuh meredam LGD. Skor 1-0 untuk keunggulan OG.

LGD lalu menyerang balik di game kedua lewat Kunkka yang dikendalikan Somnus untuk menangkal skill Relocates Io yang dipakai oleh JerAx, dimana keputusan tersebut terbukti memberikan LGD beberapa kill penting untuk memenangkan game kedua. Skor 1-1 sama. 

LGD kembali mengulang performa gemilang mereka di game ketiga setelah Weaver dari Wang "Ame" Chunyu memporak-porandakan permainan OG. Skor 1-2 untuk keunggulan LGD. 

Saat orang-orang percaya bahwa ini adalah akhir dari OG, OG seperti tak lelah membuat kejutan. Mereka memilih hero yang jauh dari meta sekarang, Axe, dan menempatkannya di posisi offlane. 7ckngMad mengendalikan Axe dengan baik dan berperan krusial dalam kemenangan OG di game keempat. Pertandingan pun terpaksa diperpanjang ke game kelima alias pertandingan terakhir dalam turnamen. Skor imbang 2-2. 

 

Momen perlawanan terakhir PSG.LGD pada laga kelima, sekaligus menandai lahirnya juara baru The International: OG Dota

Partai kelima pertandingan Grand Final berlangsung sebagaimana mestinya; dramatis, seru, mengejutkan dan membuat kita sulit untuk melupakannya. Pada awal pertandingan, OG sempat terpuruk dan tertinggal cukup jauh dalam jumlah kill. Akan tetapi, sebuah sapu bersih dalam perang besar di mid menandai comeback dari OG dengan Ember Spirit dari Anathan "Ana" Pham menjadi lakon utamanya. Ember Spiritnya seolah tak bisa dibunuh dan terus menjadi momok yang menakutkan bagi LGD. Hero Carry LGD, Terror Blade, tak bisa berbuat banyak di hadapan Zeus dari Topson dan Ember Spirit Ana yang menggunakan build tak lazim: Eul, Octarine Core, Maelstorm, dan Linken. Semua prediksi meleset, kutukan Barat-Timur terpecahkan, OG berhasil membuat keajaiban. Mereka pun memenangkan game kelima dan mengangkat trofi Aegis, tanda sang kampiun The International 2018. Selamat OG! Kerja bagus, N0tail! (stefanus/idgs)

OG Dota membuktikan bahwa comeback itu nyata! (Sumber: Wykrhm Reddy)


Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI