Indogamers.com - Divisi game Microsoft, Xbox, secara resmi mengumumkan langkah restrukturisasi paling masif dalam sejarah perusahaan pada hari Senin waktu setempat. Xbox mengonfirmasi rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 3.200 karyawan yang diperkirakan mencakup hingga 20 persen dari total tenaga kerja mereka. Selain pengurangan staf, Xbox juga memutuskan untuk melepas lima studio game besar di bawah naungannya, yaitu Double Fine, Ninja Theory, Arkane, Compulsion Games, dan Undead Labs.
Langkah ekstrem ini diambil sebagai bagian dari strategi 'reset' bisnis yang telah memicu spekulasi di berbagai media selama beberapa minggu terakhir. Kendati melakukan pengurangan tenaga kerja secara besar-besaran di berbagai departemen sepanjang tahun fiskal ini, pihak manajemen memastikan tidak ada rencana penutupan studio secara paksa ataupun pembatalan proyek game yang tengah berjalan yang sebelumnya sempat dikhawatirkan oleh komunitas gamer.
Berdasarkan rencana pelepasan tersebut, studio Psychonauts (Double Fine) dan pengembang South of Midnight (Compulsion Games) resmi keluar dari Xbox Game Studios untuk kembali beroperasi sebagai pengembang independen mandiri dengan hak milik intelektual (IP) yang tetap mereka kuasai. Sementara itu, Ninja Theory (Senua) dan Undead Labs (State of Decay) telah resmi dijual ke pemilik baru, meski detail pembelinya belum diungkap karena proses transaksi yang belum sepenuhnya rampung. Untuk Arkane (Marvel’s Blade dan Dishonored), proses pemisahan dari bisnis Xbox masih dalam tahap konsultasi awal yang terikat dengan aturan hukum di Prancis.
Pengakuan Xbox Terkait Kegagalan Ekspansi Agresif
Dalam memo internal yang dikirimkan kepada para staf, CEO Xbox, Asha Sharma, mengakui bahwa strategi akuisisi agresif yang dilakukan perusahaan selama beberapa tahun terakhir tidak menghasilkan pertumbuhan bisnis yang sesuai dengan ekspektasi awal mereka.
"bukan rumah terbaik untuk setiap jenis studio"
Sharma juga memaparkan bagaimana peta persaingan di industri game saat ini telah berubah drastis dan menjadi jauh lebih padat dibandingkan satu dekade lalu.
"Sejak 2018, kami telah secara agresif memperluas portofolio studio kami sementara jumlah game yang dibuat setiap bulan di seluruh industri sekarang melampaui gabungan sepuluh tahun terakhir," ujarnya. "Kami sekarang menemukan diri kami bersaing tidak hanya dengan penerbit terbesar, tetapi juga dengan studio independen yang lebih kecil. Memiliki setiap studio independen yang hebat tidaklah mungkin dan tidak diinginkan."
Terkait nasib kelima studio yang dilepas, Sharma memberikan rincian regulasi transisi yang akan dijalani oleh masing-masing manajemen studio tersebut.
"akan kembali ke manajemen dan bertransisi menjadi studio independen dengan IP, katalog, dan landasan pacu mereka untuk game berikutnya," kata Sharma. Ninja Theory dan Undead Labs "telah menyepakati persyaratan untuk bergabung dengan kepemilikan baru dengan pendanaan untuk menyelesaikan dan mengembangkan Senua dan State of Decay 3," tambahnya. "Di Prancis, manajemen Arkane mulai melakukan konsultasi yang diperlukan dengan Dewan Pekerja untuk meninjau potensi opsi strategis."
Pergeseran Fokus Investasi dan Perombakan Manajemen Internal
Meskipun terjadi pengurangan berskala besar di berbagai unit seperti Activision, Bethesda/ZeniMax, Blizzard, King, Mojang, dan XBOX Game Studios, Sharma menegaskan bahwa fokus investasi akan dialihkan ke proyek-proyek yang memiliki prioritas lebih tinggi.
"Perubahan ini bervariasi ukurannya di seluruh Activision, Bethesda/ZeniMax, Blizzard, King, Mojang, dan XBOX Game Studios. Tidak ada game atau proyek pihak pertama kami yang diumumkan secara publik yang dibatalkan sebagai bagian dari pengurangan ini," tuturnya.
Untuk menstabilkan neraca keuangan, Xbox juga melakukan perombakan struktural di mana Mojang dan King kini akan melapor langsung kepada CEO. Selain itu, mantan bos Minecraft, Helen Chiang, resmi ditunjuk sebagai Chief Operating Officer (COO) pertama Xbox yang memegang kendali penuh atas laba dan rugi di sektor konten, perangkat keras, platform, hingga layanan.
"Dia akan menyatukan bisnis kami di bawah satu model operasi, memastikan kami membuat keputusan investasi yang jelas, belajar dari keberhasilan dan kegagalan kami, dan meminta pertanggungjawaban diri kami sendiri atas hasilnya," kata Sharma.
Sebelum keputusan PHK massal ini diketuk, kekhawatiran di kalangan karyawan memang sudah muncul saat Sharma menyatakan dalam konferensi Bloomberg Tech bahwa bisnis Xbox sedang berada di posisi yang kurang sehat.
Dalam catatan jujur yang dikirimkan kepada staf di waktu yang sama, ia mengungkapkan realitas pahit di mana pendapatan tahunan Xbox telah menurun hampir setengah miliar Dolar AS dalam lima tahun terakhir, sementara biaya perangkat keras melonjak hingga empat kali lipat, membuat sistem kemitraan studio mereka menjadi terlalu terbebani. Sebagai dampak lanjutan dari perombakan ini, Bloomberg melaporkan bahwa Bethesda kini bersiap melakukan perombakan total demi memfokuskan lini produksi mereka pada waralaba raksasa utama saja seperti Fallout, The Elder Scrolls, Doom, Quake, dan Wolfenstein.