Indogamers.com - Setelah 24 tahun menjadi wajah publik bagi Bethesda, Pete Hines akhirnya buka suara mengenai alasan sebenarnya ia meninggalkan raksasa penerbit The Elder Scrolls tersebut pada 2023 lalu. Dalam wawancara jujur di Firezide Chat, Hines mengungkapkan kekecewaannya terhadap arah perusahaan pasca-akuisisi oleh Microsoft senilai $7,5 miliar.
Hines menyebut bahwa ia merasa Bethesda kini menjadi bagian dari sesuatu yang tidak otentik dan tidak asli. Keputusannya untuk hengkang tak lama setelah peluncuran Starfield ternyata didorong oleh rasa frustrasi melihat kultur perusahaan yang ia bangun selama dua dekade mulai hancur.
Merasa Tidak Berdaya Melindungi Tim
Hines mengakui bahwa meninggalkan timnya adalah keputusan yang sangat berat, namun ia merasa tidak lagi memiliki kekuatan untuk menjalankan perusahaan dengan cara yang benar atau melindungi para karyawannya dari perubahan kebijakan internal.
"Saya sampai pada titik di mana saya sadar bahwa saya tidak bisa menghabiskan sisa hidup saya melakukan sesuatu yang bukan untuk saya. Saya bertahan karena tempat ini masih membutuhkan saya, tetapi saya tidak berdaya untuk melakukan apa yang menurut saya perlu dilakukan untuk menjalankan tempat ini dengan benar," ujar Hines.
Ia bahkan menggunakan kata-kata keras seperti rusak, disalahgunakan, hingga dilecehkan untuk menggambarkan bagaimana kondisi Bethesda saat berada di bawah payung Microsoft. Kondisi ini pun berdampak buruk pada kesehatan mentalnya.
Penundaan Starfield yang Menyiksa
Hal menarik lainnya adalah pengakuan Hines bahwa ia sebenarnya ingin keluar lebih awal. Namun, karena janji setianya pada proyek Starfield, ia terpaksa bertahan lebih lama setiap kali Todd Howard memutuskan untuk menunda perilisan game tersebut.
"Setiap kali Todd menunda Starfield, saya berpikir, sial, saya di sini delapan bulan lagi. Dan hanya Todd yang tahu (niat saya untuk keluar)," tambahnya.
Ketimpangan Kebijakan Eksklusivitas
Meski tidak merinci secara spesifik, publik sebelumnya sempat mencium adanya ketegangan lewat bocoran email internal saat Microsoft bersidang melawan FTC. Hines dilaporkan merasa bingung mengapa Call of Duty diizinkan tetap ada di PlayStation (pasca-akuisisi Activision Blizzard), sementara Bethesda dipaksa menjadikan judul-judul besarnya seperti Starfield dan Indiana Jones sebagai eksklusif Xbox.
Hines merasa nilai-nilai kejujuran dan otentisitas yang selama ini menjadi fondasi Bethesda kini telah hilang.
"Berbicara itu mudah, bukan? Tapi saya sangat mementingkan tindak lanjut. Apakah Anda memaksudkan apa yang Anda katakan? Atau Anda hanya mengatakan hal-hal yang terdengar bagus? Karena itu bukan cara kami beroperasi di Bethesda," pungkas Hines dengan nada kecewa.
Pernyataan Pete Hines ini seolah menjadi konfirmasi atas kekhawatiran banyak gamer mengenai dampak akuisisi besar-besaran terhadap identitas sebuah studio. Bagi kamu penggemar berat game Bethesda, curhatan Hines ini memberikan perspektif baru bahwa transisi ke keluarga besar Xbox tidaklah semulus yang terlihat di permukaan.
Gimana menurut kamu, apakah kualitas game Bethesda ke depannya akan tetap terjaga meski tanpa sosok penjaga seperti Pete Hines?




















