Beda Motivasi, Satu Ambisi, SANZ dan Nino Pertaruhkan Segalanya di M7 Jakarta

Beda Motivasi, Satu Ambisi, SANZ dan Nino Pertaruhkan Segalanya di M7 Jakarta(FOTO: Indogamers/Rozi)

Indogamers.com - Panggung kejuaraan dunia M7 World Championship di Jakarta bukan sekadar soal strategi draft pick atau mekanik mikro yang tinggi. Di balik layar, ada kisah manusiawi tentang ambisi, pengorbanan, dan pembayaran utang budi.

Dua pilar utama wakil Indonesia, SANZ (ONIC Esports) dan Nino (Alter Ego), datang ke M7 dengan bahan bakar motivasi yang berbeda, namun dengan satu tujuan yang sama: mengakhiri puasa gelar juara dunia tim Indonesia sejak era M1.

Bagaimana kisah di balik semangat api mereka yang tak kunjung padam?

SANZ: Tulang Punggung yang "Tak Pernah Kenyang"

Di kancah Mobile Legends Indonesia, Gilang alias SANZ adalah anomali. Di saat banyak pro player merasa puas setelah meraih satu atau dua gelar, SANZ justru semakin "lapar". Padahal, lemari trofinya sudah sesak dengan 7 gelar MPL ID dan 1 gelar MSC.

Rahasianya? Ia tidak bertarung untuk dirinya sendiri. Ia bertarung sebagai tulang punggung keluarga.

Merantau dari Makassar ke Jakarta pada usia 16 tahun di tahun 2019, SANZ memegang teguh restu orang tuanya. Ia tidak ingin pulang dengan tangan hampa.

Motivasi inilah yang membuatnya terus berkembang (improve) dan menjaga performa di level tertinggi. Rekan setimnya, Kiboy, menjadi saksi hidup etos kerja SANZ.

"Mungkin jika kita lihat momen ketika kalah, dia (SANZ) jadi salah satu orang yang terlihat sangat kesal. Karena dia berambisi ingin menang terus," ujar Kiboy. Bagi SANZ, M7 adalah kesempatan untuk memberikan persembahan terbaik bagi keluarganya yang menjadi alasan ia berdiri di panggung ini.

Nino: Membayar Lunas Kepercayaan yang Mahal

Berbeda dengan SANZ yang sudah kenyang pengalaman internasional, M7 adalah panggung kejuaraan dunia pertama bagi Nino sepanjang kariernya.

Perjalanan Nino di Alter Ego tidaklah mulus. Bergabung pada 2021 di tengah bayang-bayang kesuksesan seniornya (yang baru saja jadi runner-up M2), beban di pundak Nino sangat berat. Ia mengalami fase naik-turun yang ekstrem, mulai dari perpindahan role (Gold Lane ke EXP Lane), hingga titik terendah di mana ia merasa tidak layak dan ingin berhenti.

Namun, di masa-masa gelap itu, ada satu sosok yang tidak pernah memadamkan lampu harapan untuknya: Delwyn Sukamto, CEO Alter Ego.

Kata-kata itulah yang membangkitkan Nino dari keterpurukan. Kini, tampil di M7 bukan lagi soal eksistensi diri, melainkan misi untuk membayar lunas kepercayaan "mahal" yang diberikan Alter Ego kepadanya selama 9 musim terakhir.

Dukung #IndoPride di Swiss Stage!

Kisah SANZ dan Nino adalah representasi dari semangat juang wakil Indonesia. Mereka akan memulai langkah pertamanya di babak Swiss Stage yang brutal mulai Sabtu, 10 Januari 2026, di XO Hall, Jakarta Barat.

Mampukah motivasi keluarga SANZ dan dedikasi Nino membawa pulang Piala M-Series kembali ke Tanah Air? Mari kita dukung perjuangan mereka! #Menu7uJuara***

Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI